Thursday, October 9, 2014

Ngupil

Kok judulnya gitu sih?

Ngupil itu kegiatan yang aneh. Kita mencari sesuatu dengan susah payah, seketemunya, dibuang.
Tapi di kehidupan pun kita sering "ngupil" kok.

Hah?

Iya. Apa sih yang kita cari dalam hidup ini? Kebahagiaan? Kepuasan?
Katakanlah kita mencari kebahagiaan. Memangnya apa yang disebut bahagia itu? Jika misalkan kita bahagia dengan menikmati secangkir kopi seharga 50.000 rupiah plus free wifi, setelah kopi itu habis, kebahagiaan kita juga habis dong? Lihat, ngupil kan. Susah-susah kita cari uang segitu, dijajanin kopi biar bahagia, sehabisnya kopi, udah aja kembali lagi ke kehidupan nyata. Bukankah itu membuang kebahagiaan kita?
Jika kita bahagia dengan berpacaran, setelah putus, kebayang kan patah hatinya kayak apa? Susah-susah pedekate, ngajak jalan kesana-kemari, quality time, segala macem lah, terus jadian. Bahagia? So pasti. Udah lama pacaran, ternyata gak cocok terus. Putus. Sakit. Dibuang itu kebahagiaan. Ngupil juga kan, susah-susah cari pacar, kok diputusin?
Definisi kebahagiaan pasti rancu. Secangkir kopi tadi, bisa jadi menjadi definisi kebahagiaan yang sesaat saja. Hubungan asmara antar kekasih, bisa jadi menjadi definisi kebahagiaan untuk sementara waktu. Terus kalau kita mencari kebahagiaan dan kebahagiaan itu pada akhirnya akan hilang, apa yang sebenarnya kita cari?
Menikah saja, yang dibilang "hidup bahagia selamanya" tentu akan menjadi sedih sedu sedan ketika pasangannya meninggal dunia. Jika orang religius bilang beribadah adalah kebahagiaan (sebenernya saya gak boleh mengganggu gugat yang ini), jika ia terlalu asyik dengan kehidupannya dan lupa ibadah maka ia "ngupil" juga dong?
Mungkin memang kodrat hidung manusia menyaring kotoran hingga meskipun dibersihkan jutaan kali ke salon paling mahal sekalipun, upil akan tetap muncul dan kita akan terus "menggali harta karun". Mungkin memang kodrat hidup manusia yang mencari kebahagiaan sehingga meskipun kebahagiaan yang lalu sudah "dibuang" ia akan mencari kebahagiaan lain.
Lagipula, definisi bahagia bagi setiap orang kan berbeda. Untuk seorang dosen, mungkin ia bahagia saat tesis/desertasinya menjadi referensi untuk tesis/desertasi lainnya di seluruh dunia. Untuk seorang pebisnis, menandatangani kontrak senilai milyaran rupiahlah yang mungkin mebahagiakannya. Untuk seorang guru, melihat muridnya sukses menjadi orang penting tentu kebahagiaan tiada tara. Untuk seorang anak kosan, mungkin temannya yang berbagi makanan gratis menjadi kebahagiaan di tanggal 28.

Saya sering liat hashtag "Bahagia itu Sederhana". Really? Coba kau lepas itu HP kau, taruh jauh-jauh laptop dan internet kau. Bisa tahan lima jam, hebat. Bahagia tidak sesederhana itu. Konsep bahagia yang berbeda-beda di benak setiap manusia menjadikannya rumit. Mungkin jika kita melihat anak-anak di perkampungan yang tertawa lepas saat mandi di kali, kita bisa bilang, "mereka aja bahagia tanpa HP, bahagia itu sederhana." sekarang saya tanya, apa Anda bahagia tanpa HP? gak gelisah? tenang aja? Maka bahagia tidak sederhana bagi Anda.

Kadang saya ingin kembali jadi anak kecil, di mana konsep "bahagia itu sederhana" benar-benar ada pada diri saya. Ketika saya menertawakan kehidupan, alih-alih memikirkannya. Ketika saya belum tahu beratnya hidup dan tanggung jawab yang harus diemban. Ketika saya senang hanya dengan bermain petak-umpet bersama teman sebaya. Ketika saya tertawa lepas, tanpa memikirkan tanggung jawab apapun. Bahagia ya? Nampaknya hidup kita terlau berat sampe-sampe kehidupan anak kecil saja kita idam-idamkan.

Kembali ke ngupil. Beberapa orang mencoba mencari kebahagiaan abadi. Ada yang mencarinya dengan uang. Apa mereka bahagia? Bisa jadi. Apa mereka tenang? Belum tentu. Mereka bisa saja merasa tidak tenang karena kepemilikan harta yang banyak akan dicopet oleh orang jahat. Ada yang mencarinya dengan kekuasaan. Apa mereka bahagia? Bisa jadi. Apa mereka tenang? Belum tentu. Mereka bisa saja takut ada orang yang ingin mengudeta dirinya dan melengserkannya dari jabatannya. Ada yang mencarinya dengan ibadah. Apa mereka bahagia? Bisa jadi. Apa mereka tenang? Belum tentu. Mereka bisa saja merasa tidak tenang takut-takut ibadahnya tidak diterima Tuhan dan malah menjerumuskan mereka ke api neraka. Ada yang mencarinya dengan berfoya-foya. Apa mereka bahagia? Bisa jadi. Apa mereka tenang? Belum tentu. Mereka bisa saja khawatir kehabisan uang dan sumber daya untuk kesenangan mereka. Jadi, adakah kebahagiaan abadi itu? (Karena saya menikmati banyak dogma agama, mari kita singkirkan agama dari pembahasan ini dan kita anggap agama sudah memiliki jawabannya: kebahagiaan abadi di surga. kita pikirkan di luar itu, kalau berkenan)

Jangan-jangan, kita diciptakan memang untuk ngupil. Selalu mencari, kadang membuang, lalu mencari lagi, tak pernah berhenti, dan bertanya-tanya dalam diri, "apa suatu saat hidungku akan berdarah karena terlalu banyak ngupil?"

Wednesday, September 24, 2014

Yang Kecil

Tadi pagi dapet sedikit pencerahan dari salah satu dosen favorit saya.

Ujug-ujug setelah masuk dia berujar, "Semoga kalian bukan termasuk orang yang tidak tahu aturan, ya."

Jadi begini. Kampus saya punya kebijakan, kalau pengen naik lift, mahasiswa harus naik dari lantai dua, sementara lantai satu hanya untuk dosen saja. Dosen saya, Ibu Saf, naik dari lantai satu. Lalu ada dosen dari jurusan lain yang mengajak mahasiswanya untuk masuk lift. Lantas Bu Saf menegur, "Eh jangan bu, dia mahasiswa, kan?" Dan Bu Saf pada intinya tidak mengizinkan mahasiswa  naik dari lantai satu.

Beliau berkata, pembiaran seperti ini yang bisa bikin masalah. Banyak dari kita yang membiarkan sesuatu terjadi, padahal hal tersebut tidak sesuai dengan yang seharusnya. Contohnya hal di atas. Beliau memberikan contoh lain, yakni seorang polantas yang membiarkan seorang preman mengatur lalu lintas sementara dia bersantai. Menurutnya, hal ini menyebabkan si preman merasa memiliki hak yang lebih daripada yang seharusnya. Di sisi lain, polantas tersebut tidak memenuhi job descriptionnya, malah memberikannya pada preman.

Kalau dipikir-pikir, emang begitu ya orang Indonesia itu. Peraturan-peraturan kecil banyak yang dilanggar karena alasan sepele yang kadang tidak logis. Padahal semua ingin perubahan, semua ingin maju, semua ingin sejahtera. Tapi, gimana mau sejahtera, kalau ngantri aja gak bisa?
Ah iya, masalah ngantri. Coba perhatikan orang Indonesia kalau mau naik bus kota/damri. Semua ingin masuk duluan. Biar apa? Biar duduk. Padahal duduk atau berdiri sama saja sampai ke tujuan. Saya yang tadinya mau menerapkan antri, yah apa boleh buat. Saya sebenarnya tidak masalah berdiri, hanya saja kalau saya mengantri,bisa-bisa tahun depan saya masuk busnya!

Memang mungkin kita masih jauh dari kata maju. Jepang sudah megenal budaya antri dan mematuhi peraturan sejak jaman dulu. Lah di kita, pada sadar aja belom. Mau kapan majunya?

Yuk berpikir. Sudahberapa banyak peraturan kecil ataupun besar yang pernah Anda langgar? Apa Anda merasa berdosa, kapok, dan tidak mau mengulang lagi? Atau jangan-jangan sudah terbiasa melanggar? Kenapa? Gak ada yang lihat? Gak akan ketauan? Buru-buru? 

Biar saya tutup dengan satu kalimat dari Bu Saf yang saya konstruksi ulang dan saya tambahkan sedikit
Jangan biarkan ketidakberadaan orang-orang membuatmu melanggar peraturan.Peraturan dibuat  untuk kepentinganmu dan kepentingan bersama. Bukan untuk dilanggar dan mendapat uang dari denda. 

Tuesday, September 16, 2014

Menghargai Waktu

Sejak kecil saya dididik untuk menghargai waktu.

Masih teringat jelas dalam kepala saya, semenjak SD, saya selalu datang paling pagi di sekolah. Rumah saya tidak begitu dekat dengan sekolah, lagi. Terus kenapa? Orang tua saya bertugas di sekolah yang cukup jauh dari rumah sehingga harus berangkat lebih awal. Karena mereka berangkat awal, tentu saya yang diantar jadi ikut berangkat awal juga. Awalnya dituntut keadaan, akhirnya terbawa hingga sekarang.
Hingga saat ini saya termasuk oang yang menghargai dan menjunjung tinggi ketepatan waktu. Jika saya ada janji, saya mengharuskan diri hadir selambat-lambatnya lima menit sebelum waktu yang ditentukan. Jika saya mengabari janji, setidaknya sehari sebelumnya saya ajukan biar pasti. Tentu kedua hal ini berdampak positif: saya tidak pernah terlambat kuliah atau terlambat memberikan tugas.

Namun yang suka bikin saya berpikir dalam-dalam, orang-orang di sekitar saya, orang Indonesia, malah sedikit yang menghargai ketepatan waktu. Kalau janji dengan kawan-kawan, gak sedikit yang datang semaunya. Jangankan begitu, yang telat menghadiri perkuliahan aja banyak. Kadang kan suka gatel sendiriii, ngeliaat temen sendiriiii, dateng telat ke kampuuusss....

Hari minggu kemarin saya ada jadwal ngajar Esperanto di komunitas faktabahasa. Saya sudah beritahu narahubungnya sejak Kamis atau Jumat bahwa saya ingin clubbing hari Minggu pukul 11 siang. Katanya akana dia jarkom. Taunya? Baru dikirim pesannya hari Minggu pukul 10 pagi. Alhasil, peserta yang datang cuma sedikit, kan.
Ada kejadian baru lagi. Teman saya mengabari pertemuan pada pukul 3 sore, dan diberi kabarnya pukul 7 pagi, hari yang sama. Yah, padahal hari sebelumnya saya sudah buat janji yang lain, jadinya kan, saya gak ikut pertemuan tersebut. Coba dikasih tahu hari sebelumnya, mungkin saya bisa ikut dan mengulur janji yang lain.
Waktu dulu saya jarkom club Esperanto faba, selambat-lambatnya sehari sebelum jadwal sudah saya infokan. Barangkali ini 'efek samping' dari hasil diomeli orang tua kalau baru bilang ada tugas sesuatu pada malam harinya, "Kenapa gak bilang dari tadi? Jam segini mau cari begituan di mana coba? Kalau bilang dari tadi kan bisa dicari. Lain kali kalo ada apa-apa, jangan mendadak!" Dan kalimat terakhir itulah yang menempel di telinga saya, barangkali.
Jangankan mahasiswa. Dosen pun suka mendadak. "Maaf saya tidak bisa masuk kelas karena ada tugas ke luar kota." Padahal hari itu kita hanya ada satu mata kuliah dan itu jam 7 pagi. Tahu gitu kan gak usah mandi?! :D "Kelas pengganti dilaksanakan esok hari. Atur tempatnya." OMG tadinya mau libur kan gak jadi liburnyaa T_T
Apalagi pejabat. Ujug-ujug berhalangan, ngaret, hingga konon pernah ada salat Jumat yang ditunda hingga 45 menit untuk menunggu pejabat yang selaku khatib datang. MAU JADI APA BANGSA INI?!

Allah padahal sudah memberi konsep tepat waktu pada manusia: salat. Salat tepat waktu sangatlah utama. Andai semua orang bisa menerapkan salat tepat waktu, tentu akan nerap ke kehidupan sehar-hari juga toh?

Katanya, jangan ubah yang besar, ubah dulu yang kecil-kecil, nanti yang besar ngikut berubah juga. Yuk, mulai dengan diri sendiri, kita biasain tepat waktu. Mulai dari salat, kuliah, hingga mengabari. Siapa tahu, Jepang bisa kita susul. Ya toh?

Tuesday, September 9, 2014

Manusia Karbitan

Istilah 'karbitan' digunakan orang-orang (setidaknya orang Sunda yang banyak berada di sekitar saya) untuk merujuk kepada buah yang belum matang dan dimatangkan dengan bantuan karbit, dipaksa matang begitu deh.

Saya adalah manusia karbitan. Bukan maksudnya saya disimpan di peti bersama seonggok karbit dan ditutup rapat selama seminggu. Saya adalah 'korban' akselerasi. Saya menyelesaikan pendidikan jenjang SMP-SMA hanya dalam waktu 4 tahun.
Barangkali yang Anda pikir adalah "Wah pasti pintar." "Wah orang genius." "Nak, kamu kayak dia, ya. Pinter, hebat, bisa lulus SMP-SMA 4 tahun, hemat 2 tahun lho nak."
Saya sendiri tidak merasa begitu pintar. Yah, mungkin cukup pintar untuk masuk kelas akselerasi namun jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya saya ada di bawah mereka. Setidaknya saya merasa pintar dalam bidang bahasa. Yah, semua manusia punya kelebihan masing-masing bukan?

Efek samping dari program pengarbitan ini adalah....saya mulai kuliah dua tahun lebih awal. Di kelas saya, sayalah yang termuda. Sisanya tersebar dari kelahiran 1992-1994 sementara hanya saya yang lahir pada tahun 1996. Akibatnya, saya dipanggil 'dede' oleh teman-teman sekelas.

Namun ada satu yang saya syukuri dari pemaksaan-pendewasaan diri ini. Dengan berkuliah dua tahun lebih awal, saya dipaksa lebih dewasa dua tahun daripada teman-teman saya. Apa saja yang saya dapatkan? Jangan sebut dewasa dulu deh. Seenggaknya ada beberapa hal yang sudah saya rasakan. antara lain:
1. Saya bisa ketawa gak jelas, saat mengerjakan paper 3000 kata dan stuck di 2800 kata, dan gak tahu harus nulis apa
2. Bisa tahu rasanya rusuh saat deadline tugas jam 12 namun hingga jam 11 belum selesai mengerjakan
3. Bisa tahu rasanya rusuh saat kuliah jam 7 dan pada perkuliahan pertama ada tugas yang harus diserahkan. Saat itu jam lima subuh dan Anda masih mengerjakan tugasnya
4. Bisa tahu rasanya overwhelming saat tugas menggunung dan Anda tidak tahu harus dikerjakan dari mana
5. Bisa tahu rasa bangga saat berhasil mengerjakan paper sejumlah 1000, 2000, bahkan 3000 kata. Berasa jadi orang pinter, sumpah!
6. Bisa travelling bersama teman-teman ke beberapa tempat. Dan travelling bersama teman (apalagi budget travel) sangat jauh berbeda dengan travelling bersama keluarga)
Dan terlalu banyak hal menarik lain yang berharga bagi saya.

Tanpa memandang rendah kawan-kawan maba, saya sangat bersyukur. Saya pernah jadi maba juga. Pernah merasakan euforia maba, eksplor tempat baru dengan teman baru, hang-out ngobrol ngalor-ngidul. Barangkali baru itu hal-hal yang maba rasakan. Sementara saya, sudah dua tahun lebih maju dan banyak pengalamannya.

"Ah, tapi masa SMP-SMAnya berkurang, ya sama aja. Nugas mulu, belajar mulu, mainnya kapan?"
Percaya atau tidak, anak aksel juga mahasiswa biasa. Saya dan teman-teman aksel suka ngumpul, makan bersama, nongkrong, main. Yah, kita gak selamanya makan buku dan nyemilin hitungan kok.

Sebenernya saya bikin artikel ini sebagai pembangkit semangat diri sendiri. Saya sedang sedikit kewalahan dengan tugas dan harus menyemangati diri sendiri, Karena kelak, setelah tugas selesai, maka saya merasa bangga terhadap diri sendiri bahwa saya berhasil melaluinya.

Biar saya tutup dengan ini:
Isilah sebuah toples dengan sebuah batu besar. Apa toples itu penuh? Tidak
Isilah dengan beberapa batu sedang hingga tidak bisa diisi lagi. Sudah penuh? Tidak.
Isilah dengan batu-batu kecil hinga penuh. Tidak bisa penuh, masih ada ruang kosong.
Isilah dengan pasir hingga ke atas. Penuh? Ya! Atau....tidak?
Yakin penuh? Coba tuangkan air hingga penuh. Pasirnya turun, memadat. Berarti tadi tidak penuh.
Toples itu hidup Anda. Mau toplesnya sebesar apapun, itu urusan Tuhan. Tapi semua orang ingin toplesnya penuh bukan? Coba jangan diisi dengan yang cetek seperti batu besar. Isilah dengan pasir atau air atau keduanya. Jangan diisi dengan satu pengalaman, coba cari pengalaman lain yang banyak. Agar hidup anda jadi penuh.
 
 
 

Thursday, September 4, 2014

Siapkah kita?

Oke, mungkin sedikit telat. Tapi saya ingin mengomentari kasus FS. Itu loh, yang ngantre di SPBU Jogja, nyinyir di media sosial, dan berujung meja hijau.
Buat yang belum tahu, begini cerita singkatnya...
Alkisah seorang perempuan berinisial FS, seorang mahsiswi UGM Jogjakarta. Dia ngantre mau beli bensin di salah satu SPBU. Karena BBM agak langka, antrean panjang mengular, dan dia ngantre di antrean untuk roda empat padahal dia bawa motor. Petugas SPBU gak mau ngisiin, dia juga ngotot. Akhirnya polisi yang jaga datang dan menengahi.
Belum selesai. Di medsosnya, dia ngedumel. Yah ngedumel doang sih gak apa-apa, masalahnya dia pake kata-kata kasar. Masyarakat  Jogja lihat dan merasa marah. FS dirisak (di-bully--red) di jagat maya, bahkan sampai ke dunia nyata. Massa menuntut dia diadili, diberi sanksi akademik dan sebagainya.
Mungkin Anda berpikir, "Hey, salah dia pake ngedumel pake kata-kata kasar segala." Tapi apakah tidak sedikit berlebihan membawa kasusnya ke ranah hukum? Dijadikan bahan bulan-bulanan di dunia internet pun sudah cukup membuat kapok dan sakit hati. Dan ini? Diseret ke meja hijau?
Konon ia sudah bosan dengan Jogjakarta. Yah itu memang perasaan dia, kan? Lalu kenapa dijerat dengan pencemaran nama baik? Dia tidak memfitnah siapapun, sepengetahuan saya. Dia tidak membuka aib siapapun. Dia hanya mengutarakan pemikirannya terhadap kota tempat tinggalnya.
Bukannya saya membenarkan tindakan FS. Tentu saja hal seperti itu perbuatan tidak terpuji. Namun saya juga sedikit menertawakan reaksi masyarakat yang terlalu lebay. Pernah di-bully di media sosial? Bayangkan saja, dia sudah di-bully oleh masyarakat seluruh Indonesia. Di media sosial, di portal berita, di forum dan milis. Kurang apa lagi?! Saya pernah merasakan di-bully beberapa orang di facebook karena memberi komentar yang bertentangan dengan pemikiran beberapa orang. Itu tidak enak sama sekali. Hanya sekitar 4 atau 5 orang saja yang mem-bully saya dan saya sudah merasa enggan berdebat di medsos lagi. DI-BULLY OLEH SELURUH PENGHUNI DUNIA MAYA INDONESIA DI SELURUH PENJURU RANAH INTERNET. Kalo saya, bisa stres dan depresi! Belum lagi menghadapi sanksi akademik dan sanksi pidana yang  menjeratnya. Belum lagi konsekuensi jangka panjang. Akan banyak tempat kerja yang mem-blacklist namanya. Akan banyak lembaga yang menolak dirinya. Apa tidak terlalu berlebihan?
Saya jadi bertanya. Sebenarnya, siapkah kita dengan adanya internet? Memang, informasi jadi bisa didapat dengan cepat. Namun tindakan yang berlebihan seperti di atas, apa perlu?
Selain kasus FS, saya rasa banyak yang bisa menyebutkan masalah yang muncul gara-gara internet. Pembunuhan karena selingkuh di facebook. Penculikan gara-gara kenalan dengan orang asing di milis internet. Pasti banyak deh. Lebay gak sih sebenarnya? Pelaku mungkin salah, tapi mungkin bertindak berlebihan hingga pembunuhan itu tidak perlu, kan ya?
Jadi, siapkah kita dengan internet? Atau jangan-jangan....mental kita terlalu 'tempe' untuk bersentuhan dengan internet? Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Wednesday, June 25, 2014

Kartu Pos dari Gelendzhik (Postcard from Gelendzhik - English version below)

[ID]
Baru saja beberapa hari yang lalu dapat sebuah kartu pos yang unik. Seperti ini penampakannya:


Kartu posnya memang berpenampilan jadul. Ini memang salah satu jenis kartu pos yang saya suka.
Gambarnya menunjukkan kota Gelendzhik. Si penulis menceritakan sejarah singkat kota Gelendzhik. Dibangun awalnya pada abad ke-6 oleh koloni Yunani di semenanjung barat Rusia, tepatnya di distrik Krasnodar Krai. Pedesaan mulai bermunculan pada tahun 1864 di Gelendzhik dan kini dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata di Rusia.

Yah berkat kartu pos ini saya seenggaknya tahu salah satu tujuan jika mampir ke Rusia nanti. Setelah saya cari di google. sepertinya Gelendzhik merupakan salah satu destinasi yang bagus di Rusia. Jika ada yang berminat mengunjunginya, ada karnival atau parade setiap bulan awal Juni di sini. Artinya, Gelendzhik adalah kota yang penuh budaya juga. Aduh, jadi pengen lancong ke luar negeri...

-----------------------------------------------------------------------------------------------
[EN]

Several days ago I got a unique card from Russia. The image of the postcard can be seen in the Indonesian version above.

A vintage-looking postcard is one of my most favorite postcard, just like this card. It shows the city of Gelendzhik. The writer wrote a brief history about it. It was settled by the Greek colony in the district of Krasnodar Krai, western Russia, on the 6th century and it is the first mentioned settlement of this city. Villages are started to be founded in 1864 and since 1907 until now it is a resort town.

I tried to google about Gelendzhik and it seems that it is one of the best destinations in Russia. Some website said that there is a carnival every beginning of June. Well, it makes me want to travel abroad... I wish I could visit Gelendzhik sometime. Amen!

Friday, June 6, 2014

Kisah Kartu Pos - Suva, Fiji (English version included below. Postcard Story - Suva, Fiji)

Setelah lama gak nulis karena gak tau mau nulis apa, akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan blog saya ruang pameran kartu pos...

Kartu pos pertama yang akan saya ceritakan, merupakan kartu pos dari Fiji. Ini nih:


Kartu pos tersebut merupakan kartu pos pertama saya dari Fiji. Lumayan susah lho dapat kartu pos dari Fiji. Di situs postcrossing sendiri hanya ada 7 orang yang merupakan anggota dari Fiji. Kartu pos ini juga salah satu favorit saya: karena kartu posnya panjang, ukurannya tidak biasa. Dan kartu  pos seperti itu merupakan favorit saya.
Kartu pos di atas memperlihatkan suasana di pasar Suva. Dan sama seperti di beberapa daerah di Indonesia, Fiji punya hari pasar juga. Penulis kartu pos ini menuliskan bahwa pasar ini buka pada hari Jumat dan di pasar Suva ini bisa ditemukan ikan dan makanan laut lainnnya yang tidak dijual pada hari lain, hanya hari Jumat. Selain ikan dan makanan laut, buah dan sayur dari seantero Fiji juga ditangkan pada Jumat subuh untuk dijual di pasar Suva.
Dari kartu pos ini saya melihat budaya yang sama, hari pasar. Tuh kan, saya sudah mengetahui rutinitas masyarakat Fiji pada hari Jumat padahal belum ke Fiji. Tapi saya berdoa: semoga suatu saat saya bisa ke Fiji dan melihat pasar Suva dengan mata kepala saya sendiri.


------------ENGLISH-------------
I will publish some of my cards to my blog (and perhaps all my cards if possible) so that I could share the world in a piece of card.

The first card that I would like to share is a card from Fiji. The picture of the postcard is available in the Indonesian version above.

The card shows the Suva market in  Suva, capital of Fiji. It is my first card from Fiji and I am very glad to have it. As in postcrossing, there are only 7 members from Fiji and I got a card from one of those seven guys!

The Suva market is operated every Friday. I am a bit surprised that Fijian have a slightly similar culture with Indonesian in some areas: that they both got a market day. It is the day when people buy and sell goods in the market, it is Friday in Suva. Well at least that''s what the writer told me. People could find seafood in this market, and also vegetables and fruits as well. The local people bring their fruits and vegetables to this market very early in the morning to sell them in Suva market.

And even though I haven't visited Fiji yet, I know something from Fiji. However, I wish that one day, I will see this Suva market, with my own eyes.