Wednesday, June 25, 2014

Kartu Pos dari Gelendzhik (Postcard from Gelendzhik - English version below)

[ID]
Baru saja beberapa hari yang lalu dapat sebuah kartu pos yang unik. Seperti ini penampakannya:


Kartu posnya memang berpenampilan jadul. Ini memang salah satu jenis kartu pos yang saya suka.
Gambarnya menunjukkan kota Gelendzhik. Si penulis menceritakan sejarah singkat kota Gelendzhik. Dibangun awalnya pada abad ke-6 oleh koloni Yunani di semenanjung barat Rusia, tepatnya di distrik Krasnodar Krai. Pedesaan mulai bermunculan pada tahun 1864 di Gelendzhik dan kini dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata di Rusia.

Yah berkat kartu pos ini saya seenggaknya tahu salah satu tujuan jika mampir ke Rusia nanti. Setelah saya cari di google. sepertinya Gelendzhik merupakan salah satu destinasi yang bagus di Rusia. Jika ada yang berminat mengunjunginya, ada karnival atau parade setiap bulan awal Juni di sini. Artinya, Gelendzhik adalah kota yang penuh budaya juga. Aduh, jadi pengen lancong ke luar negeri...

-----------------------------------------------------------------------------------------------
[EN]

Several days ago I got a unique card from Russia. The image of the postcard can be seen in the Indonesian version above.

A vintage-looking postcard is one of my most favorite postcard, just like this card. It shows the city of Gelendzhik. The writer wrote a brief history about it. It was settled by the Greek colony in the district of Krasnodar Krai, western Russia, on the 6th century and it is the first mentioned settlement of this city. Villages are started to be founded in 1864 and since 1907 until now it is a resort town.

I tried to google about Gelendzhik and it seems that it is one of the best destinations in Russia. Some website said that there is a carnival every beginning of June. Well, it makes me want to travel abroad... I wish I could visit Gelendzhik sometime. Amen!

Friday, June 6, 2014

Kisah Kartu Pos - Suva, Fiji (English version included below. Postcard Story - Suva, Fiji)

Setelah lama gak nulis karena gak tau mau nulis apa, akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan blog saya ruang pameran kartu pos...

Kartu pos pertama yang akan saya ceritakan, merupakan kartu pos dari Fiji. Ini nih:


Kartu pos tersebut merupakan kartu pos pertama saya dari Fiji. Lumayan susah lho dapat kartu pos dari Fiji. Di situs postcrossing sendiri hanya ada 7 orang yang merupakan anggota dari Fiji. Kartu pos ini juga salah satu favorit saya: karena kartu posnya panjang, ukurannya tidak biasa. Dan kartu  pos seperti itu merupakan favorit saya.
Kartu pos di atas memperlihatkan suasana di pasar Suva. Dan sama seperti di beberapa daerah di Indonesia, Fiji punya hari pasar juga. Penulis kartu pos ini menuliskan bahwa pasar ini buka pada hari Jumat dan di pasar Suva ini bisa ditemukan ikan dan makanan laut lainnnya yang tidak dijual pada hari lain, hanya hari Jumat. Selain ikan dan makanan laut, buah dan sayur dari seantero Fiji juga ditangkan pada Jumat subuh untuk dijual di pasar Suva.
Dari kartu pos ini saya melihat budaya yang sama, hari pasar. Tuh kan, saya sudah mengetahui rutinitas masyarakat Fiji pada hari Jumat padahal belum ke Fiji. Tapi saya berdoa: semoga suatu saat saya bisa ke Fiji dan melihat pasar Suva dengan mata kepala saya sendiri.


------------ENGLISH-------------
I will publish some of my cards to my blog (and perhaps all my cards if possible) so that I could share the world in a piece of card.

The first card that I would like to share is a card from Fiji. The picture of the postcard is available in the Indonesian version above.

The card shows the Suva market in  Suva, capital of Fiji. It is my first card from Fiji and I am very glad to have it. As in postcrossing, there are only 7 members from Fiji and I got a card from one of those seven guys!

The Suva market is operated every Friday. I am a bit surprised that Fijian have a slightly similar culture with Indonesian in some areas: that they both got a market day. It is the day when people buy and sell goods in the market, it is Friday in Suva. Well at least that''s what the writer told me. People could find seafood in this market, and also vegetables and fruits as well. The local people bring their fruits and vegetables to this market very early in the morning to sell them in Suva market.

And even though I haven't visited Fiji yet, I know something from Fiji. However, I wish that one day, I will see this Suva market, with my own eyes.

Sunday, April 27, 2014

Kegilaan akan Hobi

Siapa sih yang gak punya hobi?
Mereka yang gak punya hobi kayaknya idupnya dataaaaaarr aaaaajaa.

Hobi saya? Filateli. Bukan sekedar pengumpul prangko. Pengumpul prangko mah, yang segala macam dikumpulin. Eh saya juga pengumpul prangko deng. Filatelis mah, yang mengumpulkan prangko dengan tema tertentu aja,ada spesialisasinya. Spesialisasi saya, di postal history, deltiology (mengumpulkan kartu pos dengan cap pos). Untuk tema prangko, saya kumpulkan tema sejarah, tokoh, ilmu pengetahuan dan seni, flora fauna, animasi, dan prangko unik. Banyak ya, ya makanya saya bilang pengumpul prangko, orang semuanya dikumpulin.

Konon, hobi yang paling diminati di dunia adalah koleksi koin. Dulu saya pernah jalanin, cuma merasa gak nyaman aja, mahal dan sulit. Setelahnya, baru koleksi prangko. Saya rasa, koleksi prangko tidak semahal koleksi koin, meski  mahal juga. Itu mungkin bisa disebut hobi klasik, sudah ada sejak jaman dahulu kala.
Ada juga hobi yang muncul akhir-akhir ini. Sebut saja, koleksi mainan (beberapa teman saya menekuninya), cosplay (ada juga beberapa teman saya yang menekuninya), dan lain-lain.

Ada satu permasalahan yang pernah saya bahas dengan teman-teman saya yang hobi koleksi. Kalap! Ya! Kalau kita jajan benda koleksi kita, pasti uang yang dihabiskan akan melebihi dana yang sudah kita sediakan. Saya, contohnya. Saya selalu mematok uang yang saya habiskan cukup berkisar 50.000 rupiah sekali jajan. Pulang-pulangnya, uang di dompet saya berkurang lebih dari itu, hingga 150.000 rupiah malah pernah. Di perjalanan pulang, saya baru bertanya pada diri sendiri,"Qi, nanti malam makan apa? Uangmu sudah habis lho" Alamak! Bahkan saya gak ingat makan! Begitu pula teman-teman saya, ada cerita dari teman saya yang koleksi mainan gundam, dan pasti menghabiskan beratus-ratus ribu sekali jajan. Lupa daratan pokoknya.

Kemarin saya mengunjungi sebuah toko filateli di Bandung. Saya gak mau menyebut jumlah uang yang saya habiskan, tapi saya bilang ke si mbak kasirnya, "Tuh kan, gara-gara mbak uang saya habis. Saya mah gak boleh ke sini sering-sering lama-lama, nanti bangkrut" sementara si mbak hanya tersenyum sambil bilang, "Gak apa-apa mas, investasi." Ya! investasi!

Filateli bukan sekedar koleksi 'sampah' berharga. Dalam dua puluh tahun, jangan lama-lama deh, dalam tiga tahun, prangko yang saat ini harganya bisa naik berkali-kali lipat! Apalagi prangko yang sudah dua puluh, lima puluh, bahkan seratus tahun. Saya punya selembar prangko Tiongkok dari tahun 1962 yang menggambarkan pertunjukan Mei Lanfang, saya cek di katalog, harganya mencapai tiga ratus ribu rupiah, 300.000 rupiah! Hanya selembar saja padahal! Lalu saya bertanya-tanya nilai prangko Nederland Indie tahun 1941, dan prangko Portugal 1898 yang saya miliki. Sama seperti investasi, setelah beberapa lama, nilainya akan melejit, itulah filateli.

Bukannya memandang rendah hobi yang lain, tapi saya merasa hobi klasik semacam filateli dan numismatik memiliki investasi. Kalaupun sangat butuh uang, seluruh koleksinya bisa dilelang murah yang pasti akan dikerubungi oleh filatelis lain. Ya barangkali koleksi mainan juga akan diburu oleh kolektor lain juga, tapi mungkin harganya tidak akan begitu berbeda jauh.
Dalam filateli, sebuah jenis prangko dicetak minimal 300.000 set. sebuah carik kenangan biasanya 30.000 set, dan sampul hari pertama 5000 set. Bayangkan saja, hanya 5000 lembar yang dicetak dan Anda memiliki salah satunya. Selain itu, masa jual benda filateli dengan harga muka (yang tertera) hanyalah tiga tahun. Selebihnya, PT Pos Indonesia tidak berhak menjualnya, dan hanya kolektor yang bisa menjualnya. Yang namanya kolektor, tentu mencari untung. harganya tidak akan harga muka lagi, yang berarti setelah tiga tahun pun harganya sudah mulai naik. apalagi jika dicetak terbatas. Apalagi jika ada sisanya setelah masa jualnya habis, yang berarti kurang dari (misalkan, sampul hari pertama) lima ribu lembar yang ada di dunia ini. Semakin langka, semakin susah dapatnya,semakin naik nilainya.

Tapi jujur, saya lebih menghargai mereka yang punya hobi koleksi, seperti koleksi prangko, koleksi koin, koleksi benda antik, koleksi mainan, koleksi uang, hingga koleksi bungkus rokok (menghitung hari?). Karena dalam koleksi-mengoleksi, benda yang kita koleksi merupakan puzzle yang harus kita selesaikan. Seorang filatelis belum puas jika set koleksinya belum lengkap. Dalam menyelesaikan puzzle inilah kita dijadikan kalap ketika belanja, "Oh God, look, that is one of the stuffs that I'm looking for right now!". Ting! Mesin kasir berbunyi, benda berpindah ke tangan kita, uang pindah ke laci kasir, dan kita bertanya-tanya makan apa nanti malam.

Akhir-akhir ini saya sedikit menahan diri. Saya pengen liburan, dan harus nabung. Tapi masih banyak utang kartu pos yang harus saya kirim. Semoga saja cepat selesai, dan saya bisa nabung (yah, keburu libur deh, gak jadi liburannya deh).

Siapapun yang hobinya koleksi sesuatu, ketahuilah, ANDA KEREN!!! Setidaknya dari sudut pandang jumlah koleksi Anda.

Monday, January 27, 2014

Jogja!

Kayaknya destinasi yang bernama "Jogjakarta" tidak akan bosan untuk dihinggapi turis, baik lokal maupun interlokal :D maksudnya, turis dari Indonesia ataupun luar negeri akan gatel untuk mengunjungi Jogjakarta lagi dan lagi...

Kemarin saya baru saja berkunjung lagi ke sana, untuk yang ketiga kalinya. Tapi jujur, I have to admit it, ini jalan-jalan yang paling berkesan buat saya. IT WAS MY BEST TRIP EVER! x)

Saya ke Jogja bareng temen-temen kuliah, kami yang ikut ada empat orang termasuk saya. Ceritanya sih backpacker begitu, namun tiak begitu juga, saya rasa..

Kami berangkat hari Senin. Hari Minggunya ada kabar bahwa salah seorang teman kami harus mengikuti bimbingan akademik pada hari Rabu. Ketar-ketir lah kami, takutnya perjalanan kami malah gak jadi. Untungnya, beliau diperkenankan melakukan bimbingan akademik pada hari Senin, dan rencananya kami akan naik kereta Kahuripan ke Jogjakarta yang berangkat pukul 20.30 dari stasiun Kiaracondong Bandung. Siangnya kami berencana beli tiket kereta. Tadinya mau beli di minimarket gitu. Taunya gak bisa, karena harus dari hari sebelumnya. Jadi kami harus beli di stasiun, yang pembelian terakhirnya adalah pada pukul lima sore. Mana ada salah seorang teman yang harus mengantar pacarnya, pula. Kami menunggu lama sambil harap-harap cemas, lalu kami berangkat. Untungnya dengan waktu yang mepet, lalu lintas yang bikin keringetan, dan sopir angkot yang kejar setoran, kami sampai di stasiun sekitar jam lima kurang sepuluh menit dan bisa membeli tiket kereta, dan untungnya lagi, kami bisa membeli kursi untuk empat orang yang berhadap-hadapan, yang rupanya tinggal tersisa hanya bagi kami!
Esoknya, sekitar pukul lima kami tiba di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Kami salat subuh, lalu berjalan kaki ke Malioboro sekitar lima belas atau dua puluh menit. Kami mandi di Masjid gedhe keraton Jogjakarta, sarapan gudeg di Malioboro, dan menyewa mobil. Ya! Hari itu kami menyewa mobil, karena kami akan ke gua Pindul dan pantai.
Gua Pindul adalah gua yang sangat indah. Cukup membayar Rp30.000 per orang, maka kita bisa menikmati gua ini, sambil duduk di atas ban dan mengikuti arus air, ditemani pembimbing yang menjelaskan mengenai fitur gua Pindul selama sekitar setengah hingga satu jam. Selain itu, ada juga gua-gua lain, dan bisa juga melakukan aktivitas lain seperti rafting, yang tidak kami lakukan. Setelah itu pantai. Kami bertolak ke pantai Indrayanti.
Pantai Indrayanti sebenarnya bernama asli pantai Pulang Syawal. Namun karena ada restoran terkenal bernama Indrayanti, jadilah dinamakan pantai Indrayanti (mungkin agar lebih mudah). Pantainya indah, pasirnya bagus, hanya saja tidak boleh berenang. Selepas zuhur tadinya kami berencana bersantai di atas tebing di sisi kiri pantai Indrayanti. Namun kami menemukan jalan menuju pantai Trenggale, yang lebih indah dibandingkan pantai Indrayanti dan sangat sepi. Saat itu tidak ada siapapun kecuali kami berempat. Serasa punya pantai pribadi. Di pantai Trenggale terdapat terumbu kareng di pinggirnya, yang terasa seperti karpet, dan ada cekungan-cekungannya bagaikan jacuzzi alami di pinggir pantai. Yang rencananya gak basah-basahan, yah akhirnya basah kuyup deh x) Karena mendung dan gelap, kami berencana pulang. Kami segera bersih-bersih, dan bertolak menuju Jogjakarta. Dan tahu apa, keberuntungan lainnya, begitu kami naik mobil dan siap berangkat. Hujan pun turun dengan deras. Hoki lagi deh x)
Kami makan malam di Raminten, jalan FM Noto no. 7 Jogjakarta. Makanan dan minumannya murah serta nikmat, dan tempatnya nyaman bikin kami betah. Sayangnya kami gak bisa tidur di situ, kayaknya. Ya iyalah wong tempat makan. Kami bertolak ke McD untuk ngecas HP. Dan tidur. Tapi kami tidur di dalam mobil di parkirannya. Yah, sewa mobil sekalian sewa penginapan, gitu...
Hari ketiga, kami bangun sedikit siang, sekitar pukul setengah tujuh. Kami langsung bertolak ke keraton untuk numpang mandi dan lain-lain. Setelah mengembalikan mobil, kami sarapan di Raminten (lagi), dan setelahnya kami berniat mengunjungi Prambanan dan Keraton Ratu Boko.
Prambanan, biasa saja. Hanya itu kesempatan pertama saya masuk ke candi Syiwa. Candi yang paling besar, yang mungkin dibuat untuk menyembah Syiwa paling banyak. Secara, Syiwa kan dewa penghancur, ya takut dihancurkan x)
Keraton Ratu Boko, konon merupakan tempat tinggal Loro Jonggrang. FYI, Ratu Boko bukanlah seorang wanita cantik, tapi seorang laki-laki. Karena menurut bahasa Sanksekerta, Ratu Boko adalah nama seorang laki-laki. Kami menikmati sunset di sini, karena kemarinnya kami tidak sempat menikmati sunset di pantai. Yaa, terbayarkan lah, kurang lebih...
Setelah di Malioboro kembali, kami mencari penginapan. Dari sekian ratus penginapan yang ada, kami jatuh hati pada penginapan bernama "The Cabin Hotel" bukan hanya harganya yang murah, tapi sewa kamar juga dihitung per jam. Kata mbaknya sih, backpacker friendly gitu...
Esoknya kami menyewa motor ke Kaliurang. Kami kurang beruntung hari ini, karena GPS yang kami andalkan untuk mencari jalan mati dan tidak berfungsi di daerah pegunungan (atau bisa jadi karena kami kualat, di candi Wisnu berteriak, "Wisnu main yuk!" dan menyanyi, menari, tidur-tiduran, dan bersantai di candi Pembakaran, yang merupakan tempat pembakaran mayat/ngaben). Untungnya kami bisa menemukan jalan hingga ke museum Ullen Sentalu, museum budaya Jawa di Kaliurang. Kami pulangnya pun kehujanan (tuh kan, karena kualat dan sompral kayaknya). Untungnya gak apa-apa. Setelah check-out dari hotel, kami cari oleh-oleh di Mirota Batik, Malioboro, dan bertolak ke stasiun Lempuyangan.
Kami pulang hari itu, pukul 19.10 kereta kami berangkat ke Bandung.




Itu merupakan perjalanan yang terbaik buat saya.
Silakan gunakan artikel ini sebagai referensi jalan-jalan di Jogja meski isinya cuma sedikit. Pertanyaan? Silakan di kolom komentar.

Last word: Guys, let's do that again, to another place!

Saturday, January 18, 2014

Benda Apa yang Persegi, Kecil, Diam di Pojok, tapi Bisa Keliling Dunia?

Yap, jawaban Anda betul: PRANGKO!

hehehe, sekarang saya mau cerita soal prangko ah~

FIlateli. Seolah jadi hobi baruku....
Ceritanya dimulai pada tahun 2006, Syauqi yang masih duduk di kelas tiga SD tengah membaca artikel di majalah Bobo mengenai filateli. Waktu itu Pos Indonesia menerbitkan prangko unik yang berbentuk bulat, berupa stiker, dan tengahnya berlubang membentuk siluet pemain bola. Majalah Bobo menyebutkan bahwa harga satu set prangkonya berharga sepuluh ribu rupiah, terdiri dari empat buah prangko yang masing-masing berharga 2.500 rupiah. Dijual dalam bentuk buku, yang berisi juga informasi mengenai piala dunia. Esoknya, ia sengaja belok ke kantor pos dulu, beli prangko dengan uang yang dia simpan entah untuk apa.
Dan sekarang....koleksi pertamanya itu hilang entah ke mana, mungkin di tumpukan kardus di belakang rumahnya, menunggu dalam gelap dan lembab.
Beberapa lama kemudian, ia mulai membeli prangko-prangko. Namun kebanyakan ia pakai untuk mengirim kartu pos untuk sayembara majalah Bobo. Yang tersisa saat ini hanyalah satu prangko seri cerita rakyat yang menggambarkan cerita Timun Emas.
Perlahan ia meninggalkannya. Karena menghabiskan uangnya dan ribet. Ia lupa bahwa ada benda di dunia ini yang bernama prangko...
April 2013. Ia bertemu beberapa penutur Esperanto di kongres Esperanto Indonesia. Tuan So Gil Su dari Korea dan Tuan Bill Mak dari Hong Kong memberinya prangko bertema Esperanto. Dia teringat kembali mengenai prangko.
Satu saat dia membereskan buku di lemari kakeknya dan menemukan satu buku bersampul merah tebal. Ia kira itu adalah ensiklopedi. Namun ternyata itu album filateli. Ia melihat-lihat dan berpikir bahwa prangko itu sebenarnya unik dan asyik untuk dikoleksi. Ia telah memiliki prangko Esperanto untuk dikoleksi. Apa salahnya jika dia memulai semuanya dari awal?
Saat ini, dia rela makan biasa aja dan menurunkan kualitas-kualitas sehari-harinya, seperti pulpen. Demi prangko. Lama-lama, dia ikut OCD demi prangko x)

Bagiku, prangko itu mencerminkan identitas negara. Karena gambarnya bisa berupa budaya, cerita rakyat, pemimpin, hingga flora fauna dari negara tersebut. Prangko juga merupakan secarik kecil sejarah untuk masa depan.
Omong-omong soal sejarah, saya punya beberapa prangko dari negara yang terdengar asing. Antara lain, Tanganyika. Rupa-rupanya, itu adalah Tanzania di tahun 60an. Sejarah kan, Tanganyika sudah tidak ada, tapi prangko dari Tanganyika masih ada. Begitu pula dengan Jerman Barat, Jerman Timur, dan Uni Soviet. Mereka sudah tidak ada, tapi prangkonya masih ada.

Banyak sekali kebahagiaan yang aku dapatkan dari prangko. Meski cuma secarik kertas, prangko berarti banyak. Prangko mencerminkan usaha sang pengirim membuat senang si penerima. Prangko mengisyaratkan bahwa sang pengirim ingin membuat gambaran yang positif bagi negerinya. Melalui prangko sang pengirim bisa bercerita sedikit mengenai negerinya. Prangko melambangkan negara. Prangko adalah salah satu identitas bangsa.

Maka saya memutuskan menjadi filatelis. Bukan sekedar hobi, tapi juga investasi. Selain investasi ilmu yang kita dapat dari cerita di balik prangko tersebut, juga harga prangko bisa meroket setelah sekian lama.
Hidup filateli!

Friday, January 17, 2014

Toilet di Jepang

Judulnya sedikit menjijikan, ya?

Tapi beneran, ini asyik untuk dibahas karena toilet di Jepang betul-betul berbeda  dengan toilet di Indonesia. Biar saya mulai dengan sebuah kutipan dari seseorang,

"Orang Jepang membutuhkan listrik di manapun, bahkan di toilet"

Yap! Toiletnya saja butuh listrik. Bukan, bukan listrik seperti lampu atau pemanas air. Tapi lebih dari itu.
Pertama kali saya ketemu dengan toilet di Jepang adalah di bandara Narita. Habis mendarat, saya ingin buang air kecil. Mampir lah saya ke toiletnya. Saya pakai urinoir, karena toilet berpintu berisi semua. Heran, ya, biasanya di Indonesia, urinoir itu ada tombolnya untuk mencet biar air keluar. Ini gak ada. Oh, pasti toilet otomatis, kata saya. Karena di rest area jalan tol Cipularang km. 90 ada toilet otomatis juga. Setelah saya sedikit menjauh, barulah air keluar secara ajaib (baca: otomatis).
Hotel Sunnex Funabori, kamar 310. Sayangnya, toilet di hotel ini biasa aja kayak toilet duduk di Indonesia. Gak asyik dibahas. Lewat.
Tower Hall Funabori, Edogawa, Tokyo. Cuma sempet ikut buang air kecil di urinoirnya. Sama seperti di Narita, urinoirnya otomatis.
Tokyo Jamii, Yoyogi-uehara, Tokyo. Perjumpaan pertama saya dengan toilet tradisional Jepang. Toilet jongkok, hanya beda dengan di Indonesia. Itu loh, yang suka ada di anime-anime horror gitu... Penampakannya seperti ini:

Sophia University, Yotsuya, Tokyo. Toiletnya sangat ajaib. Saya tiba-tiba kebelet pipis dan minta ditunjukkin toilet. Setelah sampai, saya berpikir, "Alamak, apa-apaan sih toiletnya kok gelap begini, di mana ya saklarnya?" Lalu saya melangkah satu langkah sambil nyari saklar, dan tiba-tiba semuanya terang. Oke, lampunya otomatis dan pake sensor pula. Keren banget. Urinoirnya juga otomatis.
Sementara itu, yang menyandang jadi toilet favorit saya selama di Jepang adalah toilet di.....
Tokyu Stay Yotsuya Hotel, Yotsuya, Tokyo. Toiletnya asyik banget. Kenapa? Tempat duduknya hangat (ada pemanasnya, biar pantat gak beku kalau BAB pada musim dingin kali ya), bahkan kita 'dicebokin'. Ya, ada alat yang keluar dari toilet dan memancarkan air untuk membersihkan pantat. Ehehe~ x) Tapi bagian paling aku suka sih tempat duduknya yang hangat.

Aku sempat ngobrol dengan Prof. Kimura, seorang dosen di Sophia University. Aku kan nyeletuk, "Bahkan di kamar mandi orang Jepang butuh listrik untuk mennghangatkan tempat duduknya, ya. Beda jauh dengan di Indonesia." Dia bilang, "Justru itu menjadi masalah besar buat kami. Ingat kan reaktor Fukushima pernah bocor? Nah, waktu itu listrik jadi susah, pemadaman listrik dimana-mana. Kami jadi gak bisa pake toilet. Bukan karena kami manja gak mau pake toilet yang gak berlistrik, kami sih oke-oke aja, toh itu kebutuhan dasar manusia, tapi yang jadi masalah, air gak bisa keluar. Ya, air gak bisa keluar karena biasanya katup buka-tutupnya bisa membuka karena ada listrik. Gimana kami bisa pake toilet kalau air gak bisa keluar? Itu menjadi masalah yang besar. Di saat kayak gini, kami cuma bisa mengandalkan toilet tradisional yang betul-betul tradisional, yang gak pake sistem auto-flush, tapi disiram."
Rupanya kalau ada bencana force major mereka jadi orang Indonesia juga, ya...

Intinya? Negara semodern Jepang pun, yang bahkan membutuhkan banyak listrik untuk toilet SAJA, meskipun tampak modern dan canggih, mempunyai masalah tersendiri dan bisa jadi seperti Indonesia kalau ada bencana. 

Jujur saja, salah satu hal yang saya rindukan dari Jepang adalah tempat duduk toilet yang hangat dan cebok otomatis. Sayang sekali saya gak ngambil foto-foto toiletnya. Semoga saja suatu saat nanti, saya bisa kembali duduk di toilet yang hangat dan dicebokin (meski harus recheck takutnya belum bersih).

Wednesday, January 15, 2014

Sejak Kapan Pria Harus Berambut Pendek?

Haloo~

Udah pada tahu kan gaya rambut pria kebanyakan? Pendek. Rapi. Ya model standarnya seperti itulah. Bahkan kalau rambut saya sedikit gondrong, orangtua sudah ngomel-ngomel saya kayak gembel, rambutnya begitu.

Tapi beneran, sejak kapan pria harus berambut pendek?

Mari kita naik mesin waktu ke masa lalu. Kenal pria di gambar berikut:
 Itu adalah Gajah Mada (credit to Wikipedia). Setidaknya, penggambarannya. Apa yang mencolok dari gambar itu? Bukan, bukan busana atasan Gajah Mada yang tembus pandang (alias tidak berbusana), coba perhatikan rambutnya. Panjang terurai indah, bak model iklan shampo. Beliau pria loh. Buktinya, bertelanjang dada di muka umum tidak menyebabkan masalah besar.
Perhatikan juga gambar berikut:
Itu Yesus Kristus, setidaknya, penggambarannya. Apa kesamaan yang dimiliki Yesus dan Gajah Mada? Betul, sama-sama digambarkan berambut panjang. Mereka berdua pria, kan?!
Lihat juga gambar berikut:
Itu adalah Isaac Newton, setidaknya, penggambarannya (credit to Wikipedia). Apa lagi yang sama dengan Yesus dan Gajah Mada? Yap, rambutnya yang panjang, setidaknya hingga bahu! Kebetulan? Lihat lagi gambar-gambar di bawah deh

Bangsawan Eropa di zaman yang lalu, bahkan memakai wig agar rambut mereka panjang.
Seorang Arab badui di Jordania, terlihat memiliki rambut yang panjang. (credit to Wikipedia)

Pria-pria dari suku asli Amerika. Berambut panjang.
Terkadang pendekar kungfu digambarkan memiliki rambut panjang.
Penggambaran Arjuna dan Krisna, memiliki rambut yang panjang juga.

Bagaimana dengan Rasulullah? Menurut Wikipedia, berdasarkan hadis Sahih Muslim (buku 30 nomor 5773), Rasulullah memiliki rambut yang panjangnya hingga bahu. Karena kita tidak boleh menggambarkan Rasul, yah cukuplah hadis sebagai bahan rujukan...

Secara kasar, bisa dibilang di seluruh penjuru dunia pria berambut panjang populer. Mulai dari Eropa, Amerika, hingga Indonesia, Timur Tengah, dan India. Apa yang sama? Kebanyakan, pria yang digambarkan memiliki rambut panjang ini adalah pejuang, pendekar, atau orang yang kedudukannya tinggi (bahkan Tuhan [Yesus bagi umat Nasrani] dan Dewa [Krisna bagi umat Hindu]). Konon, memang sebelum perang dunia pertama, rambut panjang sangat populer bagi pria karena menunjukkan kejantanan dan kedudukan sosial yang tinggi.
Semuanya berubah ketika negara api menyerang (baca: perang dunia dimulai)
Setelah perang dunia, rambut pria dipangkas menjadi pendek untuk memperhatikan kedislipinan. Ya, orang Eropa lah yang mengubah mindset masyarakat dunia, merekalah yang 'menyatakan' bahwa rambut panjang bagi pria terkesan jelek, tidak rapi, dan berandalan. Awalnya, mereka mewajibkan polisi, tentara, dan pihak militer untuk memotong rambutnya menjadi pendek (barangkali biar pas perang gak riweuh sama rambut, ya), namun lama-kelamaan image di masyarakat pun berkembang, bahwa pria berambut pendek lebih rapi, sopan, dan enak dilihat. Mungkin juga kan, zaman dahulu belum ada pemangkas rambut alias barber shop, jadinya rambut pada panjang =)
Bagaimana dengan dunia Muslim? Jika Rasul dikisahkan berambut panjang, bukankah kita seharusnya mengikuti Rasul? Nah, bagi kita, dikisahkan bahwa mengubah rambut menjadi pendek adalah untuk membedakan antara pria dan wanita. Tapi, bukankah wanita dalam Islam diharuskan berhijab dan tidak boleh memperlihatkan rambutnya? Iya, tapi apa mungkin di dunia yang heterogen ini semua wanita berjilbab? Tidak, kebanyakan wanita ngikut gaya zaman dahulu. Berambut panjang. Dan banyak yang tidak berjilbab. Maka dari itu pria Muslim lebih baik jika rambutnya mengikuti gaya Eropa.

Well, sekarang pun rupanya banyak pria berambut panjang. Tapi ya, pria berambut panjang lebih diakui pada zaman dahulu. Kalau jadi pria yang berambut panjang di masa kini, gak boleh marah deh pokoknya kalau disangka wanita, karena sekarang, wanitalah yang berambut panjang. Bukan pria.

Jadi? Penyebab perubahan gaya rambut pada pria adalah PERANG. Makanya, say no to war. Salam damai, sekian! Semoga bermanfaat~