Tuesday, November 5, 2013

Kongres Esperanto Jepang - Terlalu Indah untuk Dilupakan

Hosh, lama banget daku tidak ngeblog (^_^;)

Karena kemarin (bukan kemarin juga sih, tanggal 20 Oktober tepatnya) baru pulang dari Jepang, mau berbagi pengalaman. Ini sih mau cerita soal kongresnya aja =)


Pertama-tama, puji syukur kehadirat Allah yang karena rahmat-Nya melalui kebaikan hati seorang Nyonya Mitsukawa Sumiko saya bisa pergi ke Jepang.
Berangkat tanggal 10 Oktober, pukul 22.00. Sebenernya waktu itu agak takut, karena aku orangnya gampang ngalenyab (entah apa bahasa Indonesianya. Pokoknya kalo menuruni turunan di roller coaster, terasa perasaan geli dan aneh di dada, itu ngalenyab), yang bahkan naik mobil aja sering ngalenyab, saya mikir, "Halah, malu amat kalo di pesawat ngalenyab terus." Syukurlah tidak, hanya terasa sedikit waktu roda pesawat meninggalkan tanah.
Di pesawat saya hanya tidur sekitar dua atau tiga jam. Sayangnya, karena malam hari saya gak bisa lihat apa-apa di bawah. Paginya, sekitar jam 6 waktu setempat (jam 4 atau 5 waktu Jakarta) hari sudah mulai terang dan saya disuguhi pemandangan birunya langit dan birunya laut, karena duduk dekat jendela. I love it!
Jumat, 11 Oktober pukul 9 waktu Tokyo saya sampai di Narita. Alhamdulillah, semua proses keimigrasian berlangsung lancar tanpa kendala. Saya waktu itu bersama dua orang Indonesia lainnya, Iyan dan Ilia, dan bertemu orang Belanda, Hans, di Narita. Sebelumnya, narahubung kami Ibu Tahira bilang pada kami bahwa gak ada yang bisa jemput. Ternyata, ada Pak Kai Koichi yang berbaik hati menunggu dan mengantarkan kami ke hotel.

Hari itu kami gak kemana-mana, istirahat di hotel yang nyaman itu. Resepsionisnya gak bisa bahasa Inggris, jadi ya aku gunakan bahasa Jepang seadanya. Untungnya Pak Kai menolong kami. Bahkan dia traktir makan siang kami di restoran fast food sekitar.
Agak susah cari makanan yang 100% halal di Jepang. Makanan India dan vegetarian menjadi pilihan yang bagus. Atau ikan-ikanan sejenis sushi juga. Kalaupun ada kandungan alkoholnya, toh diriku tidak tahu...

Hari pertama kongres, 12 Oktober. Pukul 8 saya sarapan di restoran kecil sebelah hotel. Saya dipesankan sarapan khas Jepang. Nasi, ikan, nato, sup miso, sayuran, dan telur. Sebenarnya pembukaan kongres baru dimulai pukul dua siang, namun program pemuda sudah dimulai dari jam 9. Pertama, kita membahas sola seminar umum/komuna seminario, dibawah bimbingan Mamiya Midori. Lalu, ada Ugo Jose Lachapelle, seorang Kanada yang lama tinggal di Jepang, berbicara mengenai pengalamannya di Jepang dan dengan Esperanto. Lalu ada Leo Sakaguchi, blasteran Jerman-Jepang yang merupakan penutur Esperanto sejak lahir yang membimbing bagaimana mengorganisir acara Esperanto.
 Suasana acara pemuda sebelum pembukaan

Setelah itu, acara pembukaan. Acara formal pertama dalam kongres ini. Isinya, sama seperti di Indonesia, sambutan-sambutan. Mulai dari para orang-orang yang diundang hingga dari gubernur Tokyo. Yang lucu, Pak Camat Edogawa menyapa kami dengan bahasa Esperanto, "Karaj kongresanoj, bonan tagon!" (Para peserta kongres, selamat siang!" Awalnya kami berpikir bahwa beliau benar-benar bisa bahasa Esperanto, eh selanjutnya dia bicara bahasa Jepang =) Setelah pembukaan, ada acara foto bersama. Setelah itu kami mengunjungi menara di tempat kongres, melihat pemandangan Tokyo dari arah Edogawa. Lalu, ada acara makan bersama/banquet. Saya ikut makan bersama dengan pemuda, di sebuah restoran India, yang gak pake daging maupun alkohol. Yah, seenggaknya itu nggak haram deh. Makanannya enak, dengan empat atau lima jenis kari, beberapa jenis roti, dan teh-susu-jahe, cocok buat saya. Malamnya ada 'kursus' dansa bersama JoMo, penyanyi Esperanto yang cukup tenar di dunia Esperanto. Kami berdansa mulai dari free-style, salsa, tankoubushi, occitane, hingga...........la bamba! Gosh, aku bener-bener menikmati malam minggu bersama kawan-kawan baru, dansa sama cewek-cewek baik muda maupun tua (!), dan have fun, yang pastinya!
Sesi dansa bebas, semuanya mirip orang gila (termasuk saya) ^_^
 
Hari kedua dimulai pukul sembilan pagi, dimulai dengan presentasi oleh peserta satu-satunya dari Vietnam, Nguyen Thi Nep, yang biasa dipanggil Nepo, yang mempresentasikan Banh Chung, makanan khas Vietnam. Cuma aku gak bisa makan, karena mengandung babi. Yang kedua presentasi dari peserta dari Nepal, Navaraj Budha, mengenai negeri Nepal. Lalu Iyan Septiyana dari Indonesia, presentasi mengenai pentingnya pemuda dalam kegiatan Esperanto, dan terakhir Suno dari Korea, presentasi mengenai workcamp dan Esperanto. Siangnya ada acara "Nikmatilah budaya Jepang". Mulai dari upacara minum teh, membuat kaligrafi/origami/bermain mainan tradisional, hingga bernyanyi dan menari (lagi). Bener-bener budaya Jepang deh pokoknya! 
Pembimbing membuat kaligrafi, Ibu Yumiko Fujii, menerangkan cara membuat kaligrafi Jepang yang rumit, namun asyik
 
Malamnya ada acara konser publik. Mulai dari lagu-lagu Jepang, lagu-lagu Jepang yang di-Esperanto-kan, lagu-lagu Esperanto yang di-Jepang-kan, hingga lagu-lagu Esperanto ada. Di akhir acara, JoMo bernyanyi, dan tahu apa, kami berdansa (lagi!) bersama JoMo di panggung (yang merupakan panggung orang gila untuk saat itu ^_^)
Kami berdansa dengan JoMo di atas panggung (Foto oleh ibu Mitsukawa Sumiko)
 
Hari ketiga pun dimulai pukul sembilan waktu Tokyo. Diawali dengan presentasi pergerakan Esperanto di Vietnam oleh Nepo, presentasi mengenai konferensi Asia-Afrika oleh Iyan, kuis budaya Korea oleh Suno, dan kuis fakta Kanada oleh Joel dan Zhenya Amis. Diikuti oleh bermain bersama. Yang pertama adalah tari bambu Vietnam yang dibimbing oleh Nepo, mirip dengan tari gaba-gaba/tari saureka-reka dari Indonesia. Lalu teman-teman dari Korea membuat kaligrafi hangul di kartu pos, dan/atau melukis wajah kita. Lalu Iyan (dan secara tidak resmi saya bantu sedikit juga) mempresentasikan gatrik dan kerupuk dari Indonesia. Dan rupanya, banyak yang suka kerupuk! Sorenya, saya cukup lelah, mungkin karena tari bambu yang harus loncat-loncat dan permainan gatrik, jadi saya istirahat di hotel sebelum malam persahabatan. ya, itu acara malam hari terakhir, malam persahabatan! Ketika beberapa teman dari Jepang, Korea, Cina, dan juga Indonesia memberikan penampilannya masing-masing. Dimulai dari band, musik perkusi Korea, tari kipas Tiongkok, hingga tari Jaipongan oleh Ilia dari Indonesia! Dan akhirnya, JoMo kembali menyanyi dan kami (Anda betul) menari lagi! Pokoknya, tiap malam badan selalu gerak deh, olahraga! =)
Pokoknya tiap malam joget! (Foto oleh Belmonto)
 
Sayangnya hari terakhir harus datang. Paginya saya ikut lomba pidato. Ada beberapa peserta lain di sana. Mulai dari Hong Kong, Korea, Jepang, dan Indonesia. Bill Mak dari Hong Kong meraih juara pertama, Suno dari Korea meraih juara kedua, sementara juara ketiga jatuh kepada................saya dan Midori dari Jepang! Ya, ada dua juara ketiga. Namun, karena hal ini tidak diduga, saya menerima piagam yang asli, sementara Midori menerima "kupon" piagam untuk nanti ditukar dengan piagam asli lainnya ^_^
Pakaiannya mirip (berkacamata, kemeja kotak-kotak, celana jeans), sama-sama tertawa, sama-sama menang juara ketiga, perbedaannya: piagam! =) (Foto oleh Nguyen Thi Nep)
Pada saat penutupan, para pemenang dipanggil, tidak untuk maju ke panggung, tapi cukup untuk berdiri dan menunduk pada peserta kongres. Penutupan...acara paling sedih, mengapa semua ini harus berakhir? Namun saya teringat perkataan ibu Franciska Toubale dari Australia, "Event Esperanto harus berlangsung paling lama 10 hari, biar kita saling kangen. Kalau lebih dari 10 hari, yang ada malah bosen." Dan memang, saya merindukan kawan-kawan baru saya yang super baik hati dan ramah.
Hari itu hujan, mungkin cuaca Tokyo pun sedih karena kongres ini berakhir. Pada hari itu pula, kami jalan-jalan ke Tokyo SkyTree. Sayang sekali karena hujan dan mendung, aku gak begitu menikmati pemandangan dari 350 meter di atas permukaan tanah. Cuma pemandangan awan, dan jalan yang samar-samar cukup memuaskan kok. Juga ditraktir cheese cake dan ice latte oleh bapak Manabe Hirochika, Esperantis Jepang yang lebih lancar berbicara bahasa Indonesia daripada bahasa Esperanto, bikin aku menikmati Tokyo SkyTree.
Bersama Iyan dan pak Manabe di SkyTree cafe (Foto oleh Iyan Septiyana)
 
Selepas dari Tokyo SkyTree, aku, Iyan, pak Inumaru, pak Hamzeh dari Iran, dan ibu Tahira makan sushi bersama. I love it! Potongan ikan kecil dengan nasi plus wasabi dengan ukuran sekali suap, aku habis berapa banyak, entahlah. Untungnya, waktu  itu dibayarin. Cuma menurutku, harga sushi di Jepang lebih murah daripada di Indonesia. Di Jepang, satu piring seharga +/- 150 yen atau sekitar 18.000 rupiah berisi enam sushi roll. Di Indonesia, itu harganya bisa 30.000 rupiah. Sementara sushi yang gak pake nori/ditamplokkin di atas nasinya yang di Indonesia bisa mencapai 70.000 untuk dua potong, di Jepang harganya sekitar 450 yen atau sekitar 50.000.
Selepas makan sushi di Tokyo Solamachi, saya pergi ke hotel baru. Aku juga tinggal di sana beberapa hari. Mungkin cerita mengenai pengalaman di Jepang selepas kongres akan diterbitkan lain kali, kalau lagi mood.
Pokoknya, dank' al Dio, dank' al Esperanto, dank' al la subteno de S-ino Micukaŭa Sumiko mi povis iri al Japanio, sperti eksterlandon, ĝui kongreson kaj la programerojn, kaj renkonti agrablegan amikaron. Udah, pokoknya setuju aja dah!
Foto favorit saya. Saya (baju garis-garis), JoMo (berdasi), sejumlah anak muda yang ramahnya selangit, dan dua orang tua yang baik hati, ibu Tahira Masako (kanan) dan Kitagawa Ikuko (kiri).
 
PER ESPERANTO, POR MONDPACO KAJ AMIKECO, ĜIS REVIDO!
dengan Esperanto, untuk perdamaian dunia dan persahabatan, sampai jumpa! 

No comments:

Post a Comment