Wednesday, November 13, 2013

Mempertanyakan Eksistensi

Apakah yang dimaksud dengan "ada"?

Bahasan kali ini akan sedikit berat nih...

"Jika sebatang pohon jatuh di tengah hutan, dan di sekitarnya tidak ada siapapun untuk mendengar suara jatuhnya, apa pohon itu masih bersuara ketika jatuh?"
Bisa menjawab pertanyaan di atas?

Oke, kenapa sih bahas yang beginian? Well, saya sering berpikir seperti ini, jangan-jangan di dunia ini saya hanya hidup seorang diri, sementara orang lain, kejadian yang ada, dan semuanya hanyalah bayangan yang saya ciptakan karena saya kesepian. Apa Anda pernah berpikiran sama? Mempertanyakan keberadaan itu rumit. Ya, anggap saja senam otak.

Karena saat ini saya mengetik di kamar kosan, apa sebenarnya dunia luar itu tidak ada? Ketika saya berada di Yogyakarta, apa sebenarnya sebuah negara bernama Amerika itu tidak pernah ada? Jika saya sedang di Amerika, apa Yogyakarta tetap ada?
Manusia hanya bisa melihat dan merasakan segala sesuatu melalui sudut pandangnya. Ia tidak akan bisa tahu, apa orang yang sedang ia ajak bicara nyata atau tidak. Ia tidak akan pernah tahu, apa hal yang dilihat, didengar, diendus, dan disentuhnya sama dengan yang orang lain rasakan atau tidak. Jadi, apa orang lain itu benar-benar ada, atau hanya imajinasi kita saja?

Kita terbiasa mendeskripsikan sesuatu yang ada itu sebagai sesuatu yang dapat dilihat, didengar, diendus, disentuh, dan dirasakan. Sementara itu, apa laptop yang sedang saya pijit-pijit papan tombolnya ini benar-benar ada karena saya bisa melihat dan menyentuhnya, atau saya bersugesti menyentuh dan melihat sesuatu sehingga saya mengatakan bahwa laptop ini ada?

Bagaimana dengan warna? Dalam ilmu fisika, warna dihasilkan dari panjang gelombang yang berbeda saat cahaya memantul pada benda tertentu, dan ditangkap oleh tiga jenis reseptor warna di mata kita, yang masing-masing sensitif pada panjang gelombang tertentu. Lalu, jika benar warna dihasilkan oleh panjang gelombang, maka dalam wujud aslinya, warna itu seperti apa?
Jika disebutkan "imajinasi manusia itu terbatas karena tidak dapat membayangkan warna baru.", apa dia tidak tahu bahwa kupu-kupu memiliki empat jenis reseptor warna di matanya, yang memungkinkannya menangkap warna hingga seratus kali lebih banyak daripada manusia? Bagaimana dengan udang mantis yang memiliki enam belas jenis reseptor warna di matanya? Berapa milyar, trilyun, atau biliun warna yang bisa ia bedakan? Apa ini berarti bahwa warna hanya itu-itu saja? Atau karena mata manusia kurang mampu menangkap warna lain? Atau karena kita hidup sendiri dan mengada-ngada tentang warna?

Tahukah Anda, peniruan suara binatang/onomatopoeia di setiap bahasa berbeda-beda, padahal binatang tersebut bersuara sama? Apa ini disebabkan telinga setiap bangsa berbeda-beda? Atau jangan-jangan hewan itu tidak ada, dan setiap bahasa menciptakan penyuaraan binatang agar dianggap ada?

Apa sih inti dari postingan ini? Mempertanyakan eksistensi. Makanya isinya pertanyaan semua.
Selamat merenung! Apa dirimu ada? Apa dunia ini ada? Jika dirimu seorang diri, mengapa dirimu ada? Untuk apa?

No comments:

Post a Comment