Thursday, September 4, 2014

Siapkah kita?

Oke, mungkin sedikit telat. Tapi saya ingin mengomentari kasus FS. Itu loh, yang ngantre di SPBU Jogja, nyinyir di media sosial, dan berujung meja hijau.
Buat yang belum tahu, begini cerita singkatnya...
Alkisah seorang perempuan berinisial FS, seorang mahsiswi UGM Jogjakarta. Dia ngantre mau beli bensin di salah satu SPBU. Karena BBM agak langka, antrean panjang mengular, dan dia ngantre di antrean untuk roda empat padahal dia bawa motor. Petugas SPBU gak mau ngisiin, dia juga ngotot. Akhirnya polisi yang jaga datang dan menengahi.
Belum selesai. Di medsosnya, dia ngedumel. Yah ngedumel doang sih gak apa-apa, masalahnya dia pake kata-kata kasar. Masyarakat  Jogja lihat dan merasa marah. FS dirisak (di-bully--red) di jagat maya, bahkan sampai ke dunia nyata. Massa menuntut dia diadili, diberi sanksi akademik dan sebagainya.
Mungkin Anda berpikir, "Hey, salah dia pake ngedumel pake kata-kata kasar segala." Tapi apakah tidak sedikit berlebihan membawa kasusnya ke ranah hukum? Dijadikan bahan bulan-bulanan di dunia internet pun sudah cukup membuat kapok dan sakit hati. Dan ini? Diseret ke meja hijau?
Konon ia sudah bosan dengan Jogjakarta. Yah itu memang perasaan dia, kan? Lalu kenapa dijerat dengan pencemaran nama baik? Dia tidak memfitnah siapapun, sepengetahuan saya. Dia tidak membuka aib siapapun. Dia hanya mengutarakan pemikirannya terhadap kota tempat tinggalnya.
Bukannya saya membenarkan tindakan FS. Tentu saja hal seperti itu perbuatan tidak terpuji. Namun saya juga sedikit menertawakan reaksi masyarakat yang terlalu lebay. Pernah di-bully di media sosial? Bayangkan saja, dia sudah di-bully oleh masyarakat seluruh Indonesia. Di media sosial, di portal berita, di forum dan milis. Kurang apa lagi?! Saya pernah merasakan di-bully beberapa orang di facebook karena memberi komentar yang bertentangan dengan pemikiran beberapa orang. Itu tidak enak sama sekali. Hanya sekitar 4 atau 5 orang saja yang mem-bully saya dan saya sudah merasa enggan berdebat di medsos lagi. DI-BULLY OLEH SELURUH PENGHUNI DUNIA MAYA INDONESIA DI SELURUH PENJURU RANAH INTERNET. Kalo saya, bisa stres dan depresi! Belum lagi menghadapi sanksi akademik dan sanksi pidana yang  menjeratnya. Belum lagi konsekuensi jangka panjang. Akan banyak tempat kerja yang mem-blacklist namanya. Akan banyak lembaga yang menolak dirinya. Apa tidak terlalu berlebihan?
Saya jadi bertanya. Sebenarnya, siapkah kita dengan adanya internet? Memang, informasi jadi bisa didapat dengan cepat. Namun tindakan yang berlebihan seperti di atas, apa perlu?
Selain kasus FS, saya rasa banyak yang bisa menyebutkan masalah yang muncul gara-gara internet. Pembunuhan karena selingkuh di facebook. Penculikan gara-gara kenalan dengan orang asing di milis internet. Pasti banyak deh. Lebay gak sih sebenarnya? Pelaku mungkin salah, tapi mungkin bertindak berlebihan hingga pembunuhan itu tidak perlu, kan ya?
Jadi, siapkah kita dengan internet? Atau jangan-jangan....mental kita terlalu 'tempe' untuk bersentuhan dengan internet? Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

No comments:

Post a Comment