Monday, January 13, 2014

Culture Shock Experience

Well, kalau ke luar negeri kayaknya gak mungkin gak ngalamin yang namanya culture shock alias kejut budaya, deh...

Kemarin ke Jepang pun, saya mengalaminya. Singkat cerita, saya waktu itu mau makan siang. Di tengah jalan ketemu teman saya yang orang Jepang, namanya Midori, Mamiya Midori. Nah Midori ini mempertemukan saya dengan Yuna, Choi Yu Na, yang sudah saya kenal sebelumnya. Ngobrol-ngobrol, mereka ngajak makan siang bareng. Ya udah sih, daripada nge-jones, makan siang bareng mereka. Juga bareng dua orang Jepang lainnya, Kyo Iwama (Kyo) dan Kentaro Okunuki (Kentaro), sama satu orang Vietnam, Nguyen Thi Nep (Nepo), dan satu orang Korea lainnya, Eun Kyung Jung (Unika). Nah, makanlah kita, dua meja. Aku semeja bareng Kentaro, Unika, dan Yuna. Yah, ngobrol sama Kentaro dan Unika lebih banyak, karena baru kenal. Sementara aku dan Yuna udah kenal dari bulan April 2013. Waktu itu aku makan mie, yang gak mengandung babi pokoknya. Porsinya gede banget, dasar rakus, habis olehku sendirian. Enak banget abisnya! Selesailah itu makan-makan, giliran bayar-bayar. Bonnya dikasih ke Kentaro. Aku tanya, aku harus bayar berapa. Dia bilang, "Udah kamu gak usah bayar, kamu ditraktir kita aja." Ya waktu itu aku seneng lah. Rezeki, gitu loh. Dan aku gak mikirin lagi.
Waktu berlalu, lalu besoknya kita makan bareng lagi. Kali ini sama Kyo, Kentaro, Unika, Yayoi (orang Jepang) Leo, Jonas (dua-duanya orang Jerman), dan JoMo (baca: Yomo. Orang Prancis. Nama aslinya sih Jean Marc Leclercq). Ngobrol banyak juga. Seneng lah, ketemu temen baru. Aku makan sejenis donburi, paket nasi plus lauknya dalam satu mangkuk, dan gak mengandung babi juga (meski rada susah, nasib orang Islam ya, pergi ke negeri orang non-Islam, ya susah cari makan :p). Enak banget! Lalu pas giliran bayar, aku tanya lagi, aku harus bayar berapa. Gini situasinya:
"Eh, aku bayar berapa nih?" tanyaku
*Kyo dan Kentaro saling berpandangan. Aku gak tahu apa-apa. Bingung*
*Hening sejenak*
"Udah kamu gak usah bayar, kita traktir." kata Kyo.
"Ayolah, kemarin-kemarin kalian udah traktir aku, masa' sekarang traktir lagi? Nanti kalian bangkrut dong." kata aku, merasa gak enak udah pernah ditraktir.
*hening sejenak*
"Lagipula, uang makan aku ditanggung ibu Mitsukawa Sumiko, kok. Dia yang bayar jadinya, bukan aku, begitu."
*terdengar obrolan dalam bahasa Jepang antara Kyo, Kentaro, dan Yayoi. Syauqi, Jonas, dan JoMo terdiam. Leo, kelihatannya mengerti, tapi diem aja*
"Gini loh, dirimu di Jepang. Di sini, budayanya, yang sudah bekerja harus traktir yang masih sekolah atau kuliah kalau makan bareng." jelas Kyo
"Tapi di Indonesia,kalau makan bareng ya bayar masing-masing, kecuali udah ada perjanjian ada yang mau bayarin." kata aku
"Sudahlah, kamu kan di Jepang, ikut budaya Jepang, kalau kita ke Indonesia, ya kita juga ikut budaya Indonesia. Oke, sob?" kata Kyo
Ya sudah. Aku nurut aja. Toh bener, aku lagi di Jepang, bukan di Indonesia. JEDDDEEERRR! Di situlah culture shock pertama seumur hidupku. Ditraktir x)
Masalahnya, aku gak ditraktir satu-dua kali, tapi beberapa kali. Setelah tahu kalau ternyata budayanya begitu, dalam hati aku berbisik, "Alamak, malu lah aku makan sama mereka. Besok-besok aku gak mau ah makan bareng mereka lagi, malu. Mau ditaro di mana mukaku ini?" aku juga dalam hati bilang, "Kawan-kawan, kalau kalian ke Indonesia, mungkin aku bisa membalas kebaikan hati kalian. Terima kasih banyak." Tak lupa juga berribu terima kasih aku ucapkan. Bukan kenapa, tapi malu!
Aih, mental Indonesiaku kerap saja berpikir untuk makan bareng mereka dengan gratis. Tapi kalau begitu, ya artinya aku minta. Sebelumnya sih aku nggak tahu. Aku malu banget waktu dibilangin kalau itu budaya mereka, dan sebelumnya aku nyantai aja ditraktir.

Apa pelajaran yang aku dapatkan? Gini loh, sebelum berangkat ke Jepang, aku banyak baca tentang Jepang. Tentang budaya, tetek-bengek, transportasi, bahasa, dll. Tapi, sehebat apapun persiapan aku, yang namanya mengunjungi tempat berbeda, ya pasti ada yang berbeda juga. Aku bisa menyesuaikan diriku dengan teman-teman yang suka minum bir. Aku bisa menyesuaikan diriku berjalan cepat dan mematuhi rambu-rambu penyebrang jalan. Karena aku sudah tahu akan ada hal seperti itu. Namun, pasti ada hal yang kita gak tahu tentang mereka, dan kita akan tahu saat bersentuhan langsung dengan mereka. Intinya, kejut budaya gak bisa dihindari. Pasti ada. Meskipun kecil, seperti yang saya alami. Konon, kejut budaya yang lebih 'ekstrem' bisa menyebabkan depresi, lho!

Itu saja cerita saya tentang budaya Jepang yang tidak terduga. Semoga bermanfaat! ^^

2 comments:

  1. Hi Syauqi! I had my husband read this for me and tell me what it said, as I like to hear other people's experience of culture shock :-) I've had a few myself! It's so good to see that you are out there traveling and seeing more of the world! Best of luck in all your endeavors! Lori

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi ma'am! I'm sorry that I only use English as the title, well at first I was going to use English, but however Indonesian is my emotional language, which I use way more better than English, but I didn't change the title.
      Yes, last October I had a chance to visit Japan, I'm looking forward for my next adventure, maybe around ASEAN...
      Best wishes to you, too!
      Syauqi,

      Delete