Monday, January 27, 2014

Jogja!

Kayaknya destinasi yang bernama "Jogjakarta" tidak akan bosan untuk dihinggapi turis, baik lokal maupun interlokal :D maksudnya, turis dari Indonesia ataupun luar negeri akan gatel untuk mengunjungi Jogjakarta lagi dan lagi...

Kemarin saya baru saja berkunjung lagi ke sana, untuk yang ketiga kalinya. Tapi jujur, I have to admit it, ini jalan-jalan yang paling berkesan buat saya. IT WAS MY BEST TRIP EVER! x)

Saya ke Jogja bareng temen-temen kuliah, kami yang ikut ada empat orang termasuk saya. Ceritanya sih backpacker begitu, namun tiak begitu juga, saya rasa..

Kami berangkat hari Senin. Hari Minggunya ada kabar bahwa salah seorang teman kami harus mengikuti bimbingan akademik pada hari Rabu. Ketar-ketir lah kami, takutnya perjalanan kami malah gak jadi. Untungnya, beliau diperkenankan melakukan bimbingan akademik pada hari Senin, dan rencananya kami akan naik kereta Kahuripan ke Jogjakarta yang berangkat pukul 20.30 dari stasiun Kiaracondong Bandung. Siangnya kami berencana beli tiket kereta. Tadinya mau beli di minimarket gitu. Taunya gak bisa, karena harus dari hari sebelumnya. Jadi kami harus beli di stasiun, yang pembelian terakhirnya adalah pada pukul lima sore. Mana ada salah seorang teman yang harus mengantar pacarnya, pula. Kami menunggu lama sambil harap-harap cemas, lalu kami berangkat. Untungnya dengan waktu yang mepet, lalu lintas yang bikin keringetan, dan sopir angkot yang kejar setoran, kami sampai di stasiun sekitar jam lima kurang sepuluh menit dan bisa membeli tiket kereta, dan untungnya lagi, kami bisa membeli kursi untuk empat orang yang berhadap-hadapan, yang rupanya tinggal tersisa hanya bagi kami!
Esoknya, sekitar pukul lima kami tiba di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Kami salat subuh, lalu berjalan kaki ke Malioboro sekitar lima belas atau dua puluh menit. Kami mandi di Masjid gedhe keraton Jogjakarta, sarapan gudeg di Malioboro, dan menyewa mobil. Ya! Hari itu kami menyewa mobil, karena kami akan ke gua Pindul dan pantai.
Gua Pindul adalah gua yang sangat indah. Cukup membayar Rp30.000 per orang, maka kita bisa menikmati gua ini, sambil duduk di atas ban dan mengikuti arus air, ditemani pembimbing yang menjelaskan mengenai fitur gua Pindul selama sekitar setengah hingga satu jam. Selain itu, ada juga gua-gua lain, dan bisa juga melakukan aktivitas lain seperti rafting, yang tidak kami lakukan. Setelah itu pantai. Kami bertolak ke pantai Indrayanti.
Pantai Indrayanti sebenarnya bernama asli pantai Pulang Syawal. Namun karena ada restoran terkenal bernama Indrayanti, jadilah dinamakan pantai Indrayanti (mungkin agar lebih mudah). Pantainya indah, pasirnya bagus, hanya saja tidak boleh berenang. Selepas zuhur tadinya kami berencana bersantai di atas tebing di sisi kiri pantai Indrayanti. Namun kami menemukan jalan menuju pantai Trenggale, yang lebih indah dibandingkan pantai Indrayanti dan sangat sepi. Saat itu tidak ada siapapun kecuali kami berempat. Serasa punya pantai pribadi. Di pantai Trenggale terdapat terumbu kareng di pinggirnya, yang terasa seperti karpet, dan ada cekungan-cekungannya bagaikan jacuzzi alami di pinggir pantai. Yang rencananya gak basah-basahan, yah akhirnya basah kuyup deh x) Karena mendung dan gelap, kami berencana pulang. Kami segera bersih-bersih, dan bertolak menuju Jogjakarta. Dan tahu apa, keberuntungan lainnya, begitu kami naik mobil dan siap berangkat. Hujan pun turun dengan deras. Hoki lagi deh x)
Kami makan malam di Raminten, jalan FM Noto no. 7 Jogjakarta. Makanan dan minumannya murah serta nikmat, dan tempatnya nyaman bikin kami betah. Sayangnya kami gak bisa tidur di situ, kayaknya. Ya iyalah wong tempat makan. Kami bertolak ke McD untuk ngecas HP. Dan tidur. Tapi kami tidur di dalam mobil di parkirannya. Yah, sewa mobil sekalian sewa penginapan, gitu...
Hari ketiga, kami bangun sedikit siang, sekitar pukul setengah tujuh. Kami langsung bertolak ke keraton untuk numpang mandi dan lain-lain. Setelah mengembalikan mobil, kami sarapan di Raminten (lagi), dan setelahnya kami berniat mengunjungi Prambanan dan Keraton Ratu Boko.
Prambanan, biasa saja. Hanya itu kesempatan pertama saya masuk ke candi Syiwa. Candi yang paling besar, yang mungkin dibuat untuk menyembah Syiwa paling banyak. Secara, Syiwa kan dewa penghancur, ya takut dihancurkan x)
Keraton Ratu Boko, konon merupakan tempat tinggal Loro Jonggrang. FYI, Ratu Boko bukanlah seorang wanita cantik, tapi seorang laki-laki. Karena menurut bahasa Sanksekerta, Ratu Boko adalah nama seorang laki-laki. Kami menikmati sunset di sini, karena kemarinnya kami tidak sempat menikmati sunset di pantai. Yaa, terbayarkan lah, kurang lebih...
Setelah di Malioboro kembali, kami mencari penginapan. Dari sekian ratus penginapan yang ada, kami jatuh hati pada penginapan bernama "The Cabin Hotel" bukan hanya harganya yang murah, tapi sewa kamar juga dihitung per jam. Kata mbaknya sih, backpacker friendly gitu...
Esoknya kami menyewa motor ke Kaliurang. Kami kurang beruntung hari ini, karena GPS yang kami andalkan untuk mencari jalan mati dan tidak berfungsi di daerah pegunungan (atau bisa jadi karena kami kualat, di candi Wisnu berteriak, "Wisnu main yuk!" dan menyanyi, menari, tidur-tiduran, dan bersantai di candi Pembakaran, yang merupakan tempat pembakaran mayat/ngaben). Untungnya kami bisa menemukan jalan hingga ke museum Ullen Sentalu, museum budaya Jawa di Kaliurang. Kami pulangnya pun kehujanan (tuh kan, karena kualat dan sompral kayaknya). Untungnya gak apa-apa. Setelah check-out dari hotel, kami cari oleh-oleh di Mirota Batik, Malioboro, dan bertolak ke stasiun Lempuyangan.
Kami pulang hari itu, pukul 19.10 kereta kami berangkat ke Bandung.




Itu merupakan perjalanan yang terbaik buat saya.
Silakan gunakan artikel ini sebagai referensi jalan-jalan di Jogja meski isinya cuma sedikit. Pertanyaan? Silakan di kolom komentar.

Last word: Guys, let's do that again, to another place!

No comments:

Post a Comment